Anak-anak masih menyiman ketidaksenangan terhadap orang-orang tertentu "tampa alasan apa pun" (kata orang dewasa), pada hal alasan mereka sangat tepat: mereka menangkap pancaran kekasaran atau kebohongan dari orang-orang yang tak mereka sukai itu.
Segala tanggapan ini ditekan; tak lama kemudaian anak-anak mencapai 'kematanagan' rata-rata manusaia dewasa, yakni kehilangan kemampuan membeda-bedakan antara sesosok pribadi yang baik dengan seorang bajingan, selama yang disebut terakhir tadi tidak melakukan tindakan apa pun yag membuka kedoknya sendiri.
Penghapusan dikerjakan bersama bersamaan dengan penyuntikan, sejak awal pendidikannya, yakni si anak diajar untuk menyukai orang-orang lain, bersikap ramah dan mau berteman tama kritik sama sekali, dan agar selalu tersenyum. Kalau pendidikan gagal membuat anak begitu, kelak tekanan sosaiallah yang akan turu-tangan.
Jika anda tidak tersenyum pada orang lain, anda di nilai "tak berkripribadian menyenangkan", sementara kepribadian semacam itu anda butuhkan jika anda menjual jasa, entah sebagai pelayan restoran, penjaja keliling, atau dokter.
Yang tak perlu menyenangkan 'menyenangkan' hanya yang berkutat di anak-tangga terbawah dalam piramida sosial, yakni yang tak berjualan apa-apa kecuali tenaga ragawi mereka; serta orang-orang yang bertenger di puncak piramida itu, yang tak butuh menjilat siapa-siapa.
Keramahan, Keceriaan, dan segala hal yang dianggap terungkap dalam seutas senyum, lantas menjadi tanggapan otomatis yang bisa di hidupkan dengan sekali tekan tombol, ibarat lampu listrik.
Segala tanggapan ini ditekan; tak lama kemudaian anak-anak mencapai 'kematanagan' rata-rata manusaia dewasa, yakni kehilangan kemampuan membeda-bedakan antara sesosok pribadi yang baik dengan seorang bajingan, selama yang disebut terakhir tadi tidak melakukan tindakan apa pun yag membuka kedoknya sendiri.
Penghapusan dikerjakan bersama bersamaan dengan penyuntikan, sejak awal pendidikannya, yakni si anak diajar untuk menyukai orang-orang lain, bersikap ramah dan mau berteman tama kritik sama sekali, dan agar selalu tersenyum. Kalau pendidikan gagal membuat anak begitu, kelak tekanan sosaiallah yang akan turu-tangan.
Jika anda tidak tersenyum pada orang lain, anda di nilai "tak berkripribadian menyenangkan", sementara kepribadian semacam itu anda butuhkan jika anda menjual jasa, entah sebagai pelayan restoran, penjaja keliling, atau dokter.
Yang tak perlu menyenangkan 'menyenangkan' hanya yang berkutat di anak-tangga terbawah dalam piramida sosial, yakni yang tak berjualan apa-apa kecuali tenaga ragawi mereka; serta orang-orang yang bertenger di puncak piramida itu, yang tak butuh menjilat siapa-siapa.
Keramahan, Keceriaan, dan segala hal yang dianggap terungkap dalam seutas senyum, lantas menjadi tanggapan otomatis yang bisa di hidupkan dengan sekali tekan tombol, ibarat lampu listrik.
Comments
Post a Comment