Sebagai gagasan, anti-intelektual bukan sebuah dalil tunggal melainkan kumpulan dalil-dalil yang saling berkaitan. sebagai sikap ia jarang ditemukan dalam bentuk murni atau mutlak - biasanya sikap anti-intelektual bermuka dua. Langkah adanya sikap mutlak tidak senang pada intelek dan kaum intelektual, juga jarang terdapat sikap total menyukai keduanya. sebagai subjek histroris, kalau memang bisa disebut demikain, anti-intelektualisme buka daya yang mantap dan mapan, melainkan kekuatan yang naik-turun dari waktu-kewaktu, dan motifnya didapat dari sumber yang berganti-ganti.
Menurut Richard Hosfstander anti intelektual adalah pelecehan, ketidaksetujuan, kecurigaan yang terus menerus terhadap alam pemikiran berserta semau orang yang dianggap mewakili alam pikiran itu.
Jika seorang intelektual mengritik sesama merupakan salah satu fungsi terpenting kaum intelektual, dan biasanya mereka melaksanakan fungsi itu dengan penuh semangat. Harapanya, yang sulit terwujud, adalah agar sang intelektual mengajukan kritik itu secara murah hati, dengan belas kasih, dengan anggun dan bermartabat dengan tepat dan tidak keluar jalur.
Lantara Perkerjaaan kaum intelektual adalah untuk saling berbeda pendapat dan memeluk ragam pemikiran yang berbeda-beda, kita musti menerima resiko bahwa kadang mereka tidak "berdebat" atau 'berdiskusi' melainkan seledar terlibat perang pena atau perang mulut.
Akhirnya, untuk menghidari kebingungan, kita mesti tahu dulu bahwa anti intelektual disini tidak disamakan dengan corak doktrin fillosofi anti-rasionalisme.
Sebagaian besar rakyat, bahkan sebagian besar rakyat yang cerdas dan cepat tanggap, bukanlah segrombolan on-intelektualisme; mereka bersikap sangsi tehadapa intelek dan kaum intelektual, sehingga mereka bisa berayun kearah X dalam persoalan budaya tertentu, sehingga mereka bisa kearah Y dalam isu kultural lain. Ketidak percayaan mereka terhadap golongan intelektual sudah mendarah-daging. Tapi, pada saat yang sama, mereka juga mendambakan 'pencerahan' serta kebudayhaan.
Comments
Post a Comment