Sunday, November 1, 2009

Metode Penelitian

METODE PENGUMPULAN DATA
1. METODE TES
Test merupakan suatu metode penelitian psikologis untuk memperoleh informasi tentang berbagai aspek dalam tingkah laku dan kehidupan batin seseorang, dengan menggunakan pengukuran (measurement) yang menghasilkan suatu deskripsi kuantitatif tentang aspek yang diteliti.
Keunggulan metode ini adalah :Lebih akurat karena test berulang-ulang direvisi. Instrument penelitian yang objektif. Sedangkan kelemahan metode ini adalah : Hanya mengukur satu aspek data. Memerlukan jangka waktu yang panjang karena harus dilakukan secara berulang-ulang. Hanya mengukur keadaan siswa pada saat test itu dilakukan.
1. Jenis-jenis Tes
1.Tes Intelegensi
Tes kemampuan intelektual, mengukur taraf kemampuan berfikir, terutama berkaitan dengan potensi untuk mencapi taraf prestasi tertentu dalam belajar di sekolah (Mental ability Test; Intelegence Test; Academic Ability Test; Scholastic Aptitude Test). Jenis data yang dapat diambil dari tes ini adalah kemampuan intelektual atau kemampuan akademik.

2. Tes Bakat
Tes kemampuan bakat, mengukur taraf kemampuan seseorang untuk berhasil dalam bidang studi tertentu, program pendidikan vokasional tertentu atau bidang pekerjaan tertentu, lingkupnya lebih terbatas dari tes kemampuan intelektual (Test of Specific Ability; Aptitude Test ). Kemampuan khusus yang diteliti itu mencakup unsur-unsur intelegensi, hasil belajar, minat dan kepribadian yang bersama-sama memungkinkan untuk maju dan berhasil dalam suatu bidang tertentu dan mengambil manfaat dari pengalaman belajar dibidang itu.
3. Tes Minat
Tes minat, mengukur kegiatan-kegiatan macam apa paling disukai seseorang. Tes macam ini bertujuan membantu orang muda dalam memilih macam pekerjaan yang kiranya paling sesuai baginya (Test of Vocational Interest).
4. Tes Kepribadian
Tes kepribadian, mengukur ciri-ciri kepribadian yang bukan khas bersifat kognitif, seperti sifat karakter, sifat temperamen, corak kehidupan emosional, kesehatan mental, relasi-relasi social dengan orang lain, serta bidang-bidang kehidupan yang menimbulkan kesukaran dalam penyesuaian diri. Tes Proyektif, meneliti sifat-sifat kepribadian seseorangmelalui reaksi-reaksinya terhadap suatu kisah, suatu gambar atau suatu kata; angket kepribadian, meneliti berbagai ciri kepribadian seseorang dengan menganalisa jawaban-jawaban tertulis atas sejumlah pertanyaan untuk menemukan suatu pola bersikap, bermotivasi atau bereaksi emosional, yang khas untuk orang itu. Kelemahan Tes Proyektif hanya diadministrasi oleh seorang psikolog yang berpengalaman dalam menggunakan alat itu dan ahli dalam menafsirkannya.
5. Tes Perkembangan Vokasional
Tes vokasional, mengukur taraf perkembangan orang muda dalam hal kesadaran kelak akan memangku suatu pekerjaan atau jabatan (vocation); dalam memikirkan hubungan antara memangku suatu jabatan dan cirri-ciri kepribadiannya serta tuntutan-tuntutan social-ekonomis; dan dalam menyusun serta mengimplementasikan rencana pembangunan masa depannya sendiri. Kelebihan tes semacam ini meneliti taraf kedewasaan orang muda dalam mempersiapkan diri bagi partisipasinya dalam dunia pekerjaan (career maturity).
6. Tes Hasil Belajar (Achievement Test)
Tes yang mengukur apa yang telah dipelajari pada berbagai bidang studi, jenis data yang dapat diambil menggunakan tes hasil belajar (Achievement Test) ini adalah taraf prestasi dalam belajar.
2. OBSERVASI
a. Pengertian Observasi
Observasi diartikan pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Berikut alat dan cara melaksanakan observasi : Keunggulan metode ini adalah : Banyak gejala yang hanya dapat diselidiki dengan observasi, hasilnya lebih akurat dan sulit dibantah. Banyak objek yang hanya bersedia diambil datanya hanya dengan observasi, misalnya terlalu sibuk dan kurang waktu untuk diwawancarai atau menisci kuisioner.
Kejadian yang serempak dapat diamati dan dan dicatat serempak pula dengan memperbanyak observer. Banyak kejadian yang dipandang kecil yang tidak dapat ditangkap oleh alat pengumpul data yang lain, yang ternyata sangat menentukan hasil penelitian.
b. Petunjuk dalam Melakukan Observasi
Dalam melakukan observasi perlu diperhatikan petunjuk-petunjuk sebagai berikut:
1) Peroleh terlebih dahulu pengetahuan tentang objek atau fenomena yang akan diobservasi.
2) Arahkan pengamatan kepada pencapaian tujuan penelitian dan pembuktian hipotesis.
3) Gunakan ceklist untuk untuk hal-hal yang akan diobservasi.
4) Adakan observasi secermat dan sekritis mungkin.
5) Tentukan kategori pencatatan gejala atau fenomena yang diamati.
6) Catat setiap gejala secara terpisah.
7) Gunakan tekhnik observasi yang terkontrol dengan menggunakan standar tertentu, seperti ukuran waktu, panjang, frekuensi, diagram, tabulasi, peta, alat ukur, dan sebagainya.
8) Buat dokumentasi dengan menggunakan alat pencatat atau alat perekam seperti kamera, tape recorder, dan sebagainya.
9) Catat semua gejala, fenomena maupun fakta yang diobservasi.
c. Keuntungan Observasi
Observasi memiliki beberapa keuntungan sebagai berikut:
1. Merupakan alat yang langsung untuk meneliti bermacam-macam gejala.
2. Memungkinkan pencatatan yang serempak dengan terjadinya sesuatu gejala.
3. Pelaksanaannya lebih mudah.
4. Umumnya orang yang diamati merasa terganggu atau tidak nyaman, sehingga akan melakukan pekerjaanya dengan tidak semestinya.
5. Pekerjaan yang sedang diobservasi mungkin tidak dapat mewakili suatu tingkat kesulitas pekerjaan tertentu atau kegiatan-kegiatan khusus yang tidak selalu dilakukan.
6. Observasi dapat mengganggu pekerjaan yang sedang dilakukan.
7. Orang yang diamati cenderung melakukan pekerjaannya dengan lebih baik dari biasanya dan sering menutupi kejelekannya.
d. Kelemahan Observasi

1. Umumnya orang yang diamati merasa terganggu atau tidak nyaman, sehingga akan melakukan pekerjaanya dengan tidak semestinya.
2. Pekerjaan yang sedang diobservasi mungkin tidak dapat mewakili suatu tingkat kesulitas pekerjaan tertentu atau kegiatan-kegiatan khusus yang tidak selalu dilakukan.
3. Observasi dapat mengganggu pekerjaan yang sedang dilakukan.
4. Orang yang diamati cenderung melakukan pekerjaannya dengan lebih baik dari biasanya dan sering menutupi kejelekannya.

3. KUESIONER (METODE ANGKET)
Menurut Dr. Hadari Nawawi, angket (kuesioner) adalah usaha mengumpulkan informasi dengan menyampaikan sejumlah pertanyaan tertulis untuk dijawab secara tertulis oleh responden. Data yang diungkap dalam penelitian dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu: fakta, pendapat, dan kemampuan. Untuk mengukur ada atau tidaknya serta besarnya kemampuan objek yang diteliti, digunakan tes. Perlu kita pahami bahwa yang dapat dikenai tes bukan hanya manusia. Mesin mobil jika akan diketahui masih baik atau tidak, data kemampuannya seberapa, juga dites dengan alat tertentu. Untuk manusia, instrumen yang berupa tes ini dapat digunakan untuk mengukur kemampuan dasar dan pencapaian atau prestasi. Sebagian besar penelitian umumnya menggunakan kuesioner sebagai metode yang dipilih untuk mengumpulkan data. Kuesioner atau angket memang mempunyai banyak kebaikan sebagai instrumen pengumpul data. Memang kuesioner baik, asal cara dan pengadaannya mengikuti persyaratan yang telah digariskan dalam penelitian. Sebelum kuesioner disusun, maka harus dilalui prosedur.
1. Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan kuesioner.
2. Mengidentifikasikan variabel yang akan dijadikan sasaran kuesioner.
3. Menjabarkan setiap variabel menjadi sub-variabel yang lebih spesifik dan tunggal.
4. Menentukan jenis data yang akan dikumpulkan, sekaligus untuk menentukan tekni analisisnya.
Penentuan sampel sebagai responden kuesioner perlu mendapat perhatian pula. Apabila salah menentukan sampel, informasi yang kita butuhkan barangkali tidak kita peroleh secara maksimal. Kita ambil contoh, kita ingin mengetahui daya tarik orang terhadap kuesioner. Maka kita mengirimkan ribuan kuesioner kepada responden secara acak melalui buku telepon dan meminta mereka untuk mengembalikan lewat pos berlangganan, jadi responden tidak perlu membeli perangko. Hasilnya dapat ditebak, yaitu bahwa semua responden akan suka dengan kuesioner. Mengapa? Tentu saja, responden yang tidak suka dengan kuesioner akan membuang kuesioner ke tempat sampah atau dijadikan bungkus kacang. Angket anonim memang ada kebaikannya karena responden bebas mengemukakan pendapat. Akan tetapi penggunaan angket anonim mempunyai beberapa kelemahan pula.
1. Sukar ditelusuri apabila ada kekurangan pengisian yang disebabkan karena responden kurang memahami maksud item.
2. Tidak mungkin mengadakan analisis lebih lanjut apabila peneliti ingin memecah kelompok berdasarkan karakteristik yang diperlukan.

Berbagai penelitian memberikan gambaran hasil bahwa tidak ada perbedaan ketelitian jawaban yang diberikan oleh orang dewasa, baik yang anonim maupun yang bernama. Faktor-faktor yang mempengaruhi perlu tidaknya angket diberi nama adalah:
1. Tingkat kematangan responden.
2. Tingkat subjektivitas item yang menyebabkan responden enggan memberikan jawaban (misalnya gaji untuk pria dan umur untuk wanita).
3. Kemungkinan tentang banyaknya angket.
4. Prosedur (teknik) yang akan diambil pada waktu menganalisis data.

Kelebihan teknik kuesioner:
1. Kuesioner baik untuk sumber data yang banyak dan tersebar.
2. Responden tidak merasa terganggu, karena dapat mengisi kuesioner dengan memilih waktunya sendiri yang paling luang.
3. Kuesioner secara relatip lebih efisien untuk sumber data yang banyak.
4. Karena kuesioner biasanya tidak mencantumkan identitas responden, maka hasilnya dapat lebih objektif.
Kekurangan teknik kuesioner:
1. Kuesioner tidak menggaransi responden untuk menjawab pertanyaan dengan sepenuh hati.
2. Kuesioner cenderung tidak fleksibel, artinya pertanyaan yang harus dijawab terbatas yang dicantumkan di kuesioner saja, tidak dapat dikembangkan lagi sesuai dengan situasinya.
3. Pengumpulan sampel tidak dapat dilakukan secara bersama-sama dengan daftar pertanyaan, lain halnya dengan obeservasi yang dapat sekaligus mengumpulkan sampel
4. Kuesioner yang lengkap sulit untuk dibuat.


4. WAWANCARA
Menurut Prof. Dr. S. Nasutin, MA, wawancara (interview) adalah suatu bentuk komunikasi verbal (Tika, Pabundu 2005:49). Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan cara tanya jawab yang dikerjakan dengan sistematis dan berlandasan pada tujuan penelitian. Di samping memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan data, dengan metode interview peneliti harus memikirkan tentang pelaksanaannya. Memberikan angket kepada responden dan menghendaki jawaban tertulis, lebih mudah jika dibandingkan dengan mengorek jawaban responden dengan bertatap muka. Sikap pada waktu datang, sikap duduk, kecerahan wajah, tutur kata, keramahan, kesabaran serta keseluruhan penampilan, akan sangat berpengaruh terhadap isi jawaban responden yang diterima oleh peneliti. Oleh sebab itu, maka perlu adanya latihan yang intensif bagi calon interviewer (penginterviu).
1. Agar tidak ada pokok-pokok yang tertinggi.
2. Agar pencatatannya lebih cepat.

a. Jenis Wawancara
1) Wawancara Berstruktur
Wawancara berstruktur adalah wawancara yang dilakukan dengan terlebih dahulu membuat daftar pertanyaan yang kadang-kadang disertai dengan jawaban alternatifnya dengan maksud agar pengumpulan data dapat lebih terarah kepada tujuan penelitian dan pembuktian hipotesis. Dalam wawancara berstruktur peneliti diarahkan kepada tujuan penelitian dan pembuktian hipotesis. Dalam wawancara berstruktur, pewawancara terkait dengan daftar pertanyaan dan alternatif jawaban yang lebih ditentukan.
Keuntungan wawancara berstruktur adalah sebagai berikut:
a. Tujuan wawancara lebih jelas sehingga pembuktian hipotesis lebih mudah.
b. Jawanan-jawaban mudah dicatat dan diberi kode serta mudah diolah.
c. Memungkinkan dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif.
Sedangkan kelemahan wawncara berstruktur adalah sebagai berikut:
a. Daftar pertanyaan menyerupai kuesioner, sehingga jalannya interview agak kaku.
b. Hubungan antara pewawancara dan responden terlalu formal sehingga memungkinkan data yang diperoleh kurang detail.
c. Tidak memberi kesempatan bagi responden untuk menjawab sesuai kemauannya sendiri.

2) Wawancara Tidak Berstruktur
Wawancara tidak berstruktur adalah wawancara yang dilakukan dengan tanpa menyusun daftar pertanyaan sebelumnya. Dalam wawancara ini, pewawancara atau peneliti mengajukan berbagai pertanyaan, tetapi pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak menentu arahnya dan hanya dituntun dengan garis besar yang perlu diwawancarakan.
Keuntungan wawancara tidak berstruktur adalah sebagai berikut:
a. Cocok untuk penelitian (survei) pendahuluan.
b. Keahlian yang diperlukan tidak perlu terlalu mendalam.
c. Hubungan antara pewawancara dan responden dapat berjalan dengan baik karena wawancara dilakukan dengan bebas.
Sedangkan kelemahan wawancara tidak berstruktur adalah sebagai berikut:
a. Data yang diperoleh sulit diberi kode sehingga sulit diolah dan dibandingkan.
b. Karena tidak ada pedoman, kegiatan penelitian menjadi sangat insidental.
c. Memerlukan banyak waktu, tenaga dan biaya.

3) Kombinasi Wawancara Berstruktur dan Tidak Berstruktur
Dalam kombinasi wawancara berstruktur dan tidak berstruktur, pewawancara membuat daftar pertanyaan yang akan disajikan. Akan tetapi, cara pengajuan atau penyajian pertanyaan-pertanyaan tersebut diserahkan kepada kebijaksanaan pewawancara itu sendiri. Dengan daftar pertanyaan yang sudah dibuat, pewawancar bebas menggali jawaban dan mengorek keterangan dari responden agar didapatkan inforamasi yang lebih jelas.

b. Pedoman wawancara
1. Pedoman wawasan tidak terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan. Tentu saja kreativitas pewawancara sangat diperlukan, bahkan hasil wawancara dengan jenis pedoman ini lebih banyak tergantung dari pewawancara. Pewawancaralah sebagai pengemudi jawaban responden. Jenis interviu ini cocok untuk penilaian khusus.
2. Pedoman wawancara terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang disusun secara terperinci sehingga menyerupai check-list. Pewawancara tinggal membubuhkan tanda Ö (check) pada nomor yang sesuai.


Pedoman wawancara yang banyak digunakan adalah bentuk “semi structured”. Dalam hal ini maka mula-mula interviewer menanyakan serentetan pertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian satu per satu diperdalam dalam mengorek keterangan lebih lanjut. Dengan demikian jawaban yang diperoleh bisa meliputi semua variabel, dengan keterangan yang lengkap dan mendalam.
Sebagai contoh misalnya kita akan menyelidiki pengetahuan dan pendapat mahasiswa tentang perguruan tinggi di mana mereka kuliah. Pertama-tama mereka kita tanya tentang tahun berapa masuk, sekarang di tingkat berapa, mengambil mata kuliah apa saja, ekstra kurikuler apa yang diikuti dan sebagainya, kemudian diikuti dengan pertanyaan, antara lain sebagai berikut :
  • Pada tahun Saudara masuk, jurusan apa saja yang ada?
  • Apakah Saudara lancar menaiki jenjang dari tahun ke tahun?
  • Bagaimana sistem penentuan tingkat/sistem kenaikan tingkat?
  • Apakah program studi yang diberikan cocok dengan keperluan Saudara jika sudah lulus?
  • DOKUMENTASI

    Tidak kalah penting dari metode-metode lain, adalah metode dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya. Dibandingkan dengan metode lain, maka metode ini agak tidak begitu sulit, dalam arti apabila ada kekeliruan sumber datanya masih tetap, belum berubah. Dengan metode dokumentasi yang diamati bukan benda hidup tetapi benda mati. Dalam menggunakan metode dokumentasi ini peneliti memegang check-list untuk mencari variabel yang sudah ditentukan. Apabila terdapat/muncul variabel yang dicari, maka peneliti tinggal membubuhkan tanda check atau tally di tempat yang sesuai. Untuk mencatat hal-hal yang bersifat bebas atau belum ditentukan dalam daftar variabel peneliti dapat menggunakan kalimat bebas.

    Metode dokumentasi sebagai metode pengumpulan data mempunyai beberapa kelebihan, yaitu:

    1. Metode ini dapat memberikan gambaran berbagai informasi tentang siswa pada waktu yang sudah lampau (yang direkam atau didokumentasikan)

    2. Berbagai informasi tentang siswa tersebut merupakan bahan kajian yang dapat menghubungkan keadaan siswa dengan masa lauinya, apakah keadaan sekarang disebabkan oleh hal yang sudah lalu atau tidakkah

    3. Metode ini dapat merekam berbagai jenis data tentang siswa: identitas siswa, identitas orang tua, keadaan dan latar belakang keluarga, lingkungan sosial, data psikis, prestasi belajar, data pendidikan dan data kesehatan jasmani, dan sebagainya.

    Dari data dokumentasi di atas yang menjadi data pokok dari peneliti adalah dokumentasi untuk melengkapi data yang dapat dipertanggung- jawabkan.

    Selain memiliki kelebihan, metode dokumentasi juga mempunyai kelemahan - kelemahan, yaitu:

    1. Pencatatan dalam dokumen perlu disikapi dengan kritis, apakah pencatatan yang dilakukan terhadap siswa valid ataukah tidak.

    2. Jika ada pencatatan yang tidak lengkap karena sesuatu hal, disengaja atau tidak disengaja, penggunaan dokumen dapat menyesatkan dalam memahami siswa.

0 komentar:

Post a Comment